The Unstoppable Ricky Suhendar

Ricky Suhendar adalah sosok dibalik dikenalnya JKT48 pada dan pesepakbola Irfan Bachdim. Pemikirannya mengenai dunia marketing tidak perlu diragukan lagi. Bahkan, Suhe (sapaan akrabnya) – sangat identik dengan PT Amerta Indah Otsuka, sebuah perusahaan fast-moving consumer goods (FMCG) dari Jepang. Setelah lebih dari 10 tahun berkarir di PT Amerta Indah Otsuka, tiga bulan terakhir Suhe memilih membesarkan digital agency dengan bendera Olrange.

“Tepat 3 bulan yang lalu saya sudah tidak di Pocari, ya. Sudah waktunya saya gedein digital agency yang sudah saya rintis sejak 2013. Saya founder digital agency ini, Olrange. Resign dari Pocari 2012, Pocari sempat jadi klien saya. Khan, tidak boleh ada politik kepentingan waktu itu,” ujar Suhe.

Dunia marketing telah ia tekuni sejak 2005, di PT Amerta Indah Otsuka. Sebelum produk Pocari Sweat, Suhe mengawalinya dengan produk Soyjoy sebagai Sales Manager untuk wilayah Sumatera. Baru kemudian tepat Januari 2010, ia ditunjuk perusahaan untuk handle Pocari setelah Otsuka mengalami penurunan penjualan akibat kompetisi produk minuman yang cukup ketat.

“2010, market share produk minuman cukup ketat, Pocari kalah bersaing dengan produk Mizone, Aqua, Coca-Cola, dan minuman lainnya. Saya ubah, tuh, targeting pasarnya. Kalau awalnya Pocari itu produk hanya untuk orang sakit atau untuk olah raga saja, Pocari targeting ke anak muda juga, usia 18-25 tahun,” beber Suhe.

Pemegang gelar sarjana teknologi pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini juga sempat mengalami kegagalan saat melanjutkan S2 dengan program beasiswa di Boston. Program beasiswa ini ia peroleh setelah mendapatkan rekomendasi dari Akbar Tanjung – yang waktu itu menjadi pemilik salah satu media dimana Suhe bekerja sebagi wartawan. Suhe gagal dengan alasan kampusnya mengurangi kuota mahasiswa laki-laki.

Pantang Menyerah

Gagal di Boston, Suhe menolak menyerah. Ia kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Unilever sebagai sales supervisor pada 2001. “Bekerja di Unilever, I was very lucky. Karena Unilever ini perusahaan luar biasa, jadi otak saya sebagai sales ini luar biasa terasah,” ungkap Suhe.

Selama 3 tahun di Unilever, ia merasa skill marketingnya masih perlu dipoles. Akhirnya ia keluar dari Unilever dan melanjutkan studi S2-nya di universitas Trisaksi pada jurusan marketing. Baru kemudian pada Januari 2005, ia memulai karirnya di PT Amerta Indah Otsuka sebagai sales manager produk Soyjoy dan meng-handle wilayah Sumatera.

Ricky Suhendar = Pocari

Untuk seorang Suhe, pemasaran merupakan bidang yang penuh tantangan. Tantangan inilah yang menyebakan ia berani berdebat dengan bosnya di Otsuka saat menyodorkan nama Irfan Bachdim sebagai brand ambassador Pocari Sweat.

“Di marketing, 99 persen itu praktik, 1 persennya intuisi. Saat saya memilih Irfan, intuisi saya mengatakan ini moment tepat. Sampai saya bela-belain nonton ke GBK, padahal saya ndak suka bola,” ungkapnya.

Menurut Suhe, Irfan hadir saat timnas Indonesia tidak ada prestasi. Irfan hadir di saat moment yang tepat. Dengan fisik bulenya yang eye-catchy, jogetnya yang lucu, hal itu juga jadi magnet supporter timnas. Sehingga ketika Pocari hadir, itu jadi kolaborasi yang pas.

Suhe juga bercerita bagaimana perjuanganya untuk mendapatkan Irfan sebagai brand ambassador Pocari Sweat.

“Saat itu lagi piala AFF, Irfan sangat sibuk, sementara saya kepengen iklan Pocari dengan Irfan ini cepet tayang di televisi dan harus yang pertama. Sebelum iklan Irfan dengan yang produk lain. Jadi, saya bersama tim sampai datang ke kamar hotelnya pagi-pagi, demi mendapatkan approval dan lain-lain,” ujar Suhe.

Hasilnya, iklan Pocari Sweat yang dibintangi Irfan Bachdim ini viral. Bahkan, masyarakat justru lebih mengingat Irfan Bachdim dibandingkan Pocari Sweat, buka dengan produk lain yang juga dibintangi Irfan Bachdim.

“Dari sinilah kemudian kalau Ricky Suhendar itu Pocari. Saya identik dengan Pocari, termasuk juga JKT48, itu juga karena Pocari,” beber Suhe.

Merintis Startup

Sebagai professional yang telah lama terjun di dunia marketing, Suhe tidak ingin selamanya bergelut dengan kerja kantoran. Saat ini Suhe sedang membesarkan salah satu digital agency dengan label Olrange. Bersama partner bisnisnya, ia juga sedang membesarkan tiga startup, salah satunya adalah startup di bidang traveling.

“Ada tiga startup yang sedang saya rintis, salah satunya startup traveling, karena saya suka traveling. Ada teman, usianya masih muda, 25 tahun, tapi idenya luar biasa di startup ini. Jadi, saya ambil, karena saya suka traveling. Anak muda harus punya ide dan impian besar seperti ini,” ujarnya.

Menurut Suhe, anak muda harus memiliki impian besar. Ketika dirinya mendapatkan tawaran untuk ikut membesarkan startup di bidang traveling ini, ia melihat ide, gagasan temannya yang masih sangat muda ini sangat brilian. Inilah yang dilihat Suhe bahwa narasi anak muda sebagai penggerak sejarah juga hadir di teknologi.

Sebagaimana disebut J.L. Horn dan Raymond Cattell dalam “Age Differencies in Fluid and Crystallized” (1967), anak muda memiliki kecerdasan cair (fluid intelligence), sehingga anak muda sanggup menciptakan terobosan baru di berbagai bidang. Kecerdasan cair adalah kemampuan berpikir secara fleksibel dan sederhana. Keberanian mengambil risiko pada orang-orang dengan tingkat kecerdasan cair tinggi dinilai membantu mengembangkan ide-ide segar.

Fashion di mata Ricky Suhendar

Sebagai seorang professional yang sering bertemu dengan klien, Suhe juga memiliki selera fashion cukup lumayan. Hal ini tercermin dari penampilan Suhe saat menemui redaksi FashionDaily. Ia memakai atasan sporty jacket, sporty pants, dipadu dengan sneakers.

“Hari ini dresscode saya sporty, karena meeting santai tiap Sabtu. Tapi selama dua tahun terakhir di Otsuka, saya dapat kebebasan. I can wear what I want, jadi semi-casual dan masih sopan-lah,” ungkapnya.

Secara khusus Suhe juga menyebut Jepang adalah negara dengan produk fashion yang nyaman dan cocok ia pakai. Suhe menuturkan bahwa desain baju Jepang sangat cocok dengan dirinya, bahkan meskipun ia harus menjahit, baju dari Jepang tetap lebih nyaman dibanding produk lain.

“Even saya menjahit, ya, paling kepakai cuma sekali. Entah kenapa baju dan desain dari Jepang itu enak dilihat dan nyaman dipakai. Mau kurus, gemuk, tinggi itu di Jepang ada semua, dan semua nyaman dipakainya” ujar Suhe.

Untuk aktifitas keseharian, Suhe gemar memakai sneakers. Ia memilih Adidas sebagai brand sepatu yang paling banyak ia miliki. Menurutnya, ada kenyamanan tersendiri produk Adidas ini. Sementara itu untuk urusan celana, khususnya celana kerja, Suhe merasa dirinya cocok dengan produk dari GAP. Termasuk baju dan celana kerja, Suhe juga memilih BOSS sebagai produk paling favorit di lemarinya.

Sebagai penutup, tim FashionDaily menyodorkan satu pertanyaan yang cukup membuat Suhe bingung, “Jika ada terdampar di sebuah pulau terpencil, sebutkan 3 hal yang ingin anda bawa!”.

“Pertama, handphone, dompet, dan makanan minuman,” tutup Suhe.

Ikuti cerita inspiratif lainnya dari FashionDaily untuk topik Profil

Content Writer – Editor : Sari Atmanto
Fotografer : Robby Anthony Diska

fashiondaily.id is an online magazine, that captures daily updates on fashion lifestyle trends.

Menu

More Stories
Love Goes, Album Baru Sam Smith