Mengenal Pesona Keindahan Tari Kecak Bali

Berbicara tentang Pulau Bali, tentu anda semua akan berdecak kagum dan sangat mengenal serta memiliki banyak kenangan terhadap Pulau yang dijuluki Pulau Dewata ini. Bahkan kesohoran dan kepopuleran nama Pulau Bali telah tersebar sampai kepada Mancanegara. Pulau Bali dengan berbagai kekayaan alam berupa keindahan pantai, tebing-tebing tinggi, wilayah yang asri dan adat istiadat dan ritual keagamaannya yang sangat dilestarikan, merupakan daya Tarik wisata terkuat Pulau Dewata tersebut. Tahukah anda, bahwa Keunikan terutama yang ada di Bali adalah budayanya? Budaya yang memiliki berbagai pesan moral di balik nya dan menjadi hiburan juga yang paling ditunggu Para Wisatawan baik Domestik dan mancanegara? Ya, benar, apalagi kalau bukan tarian terkenalnya yakni “Tari Kecak (Kecak Dances)” yang sudah dikenal sampai ke kancah internasional. Suatu tarian unik yang apabila anda berada di Bali dan belum menyaksikannya maka belum dapat disebut anda “sah” berlibur ke Pulau Dewata tersebut. Makna mendalam, keindahan tersembunyi, nilai religius dan pesan moral tersimpan rapi di balik keeksotisan tarian ini yang sangat khas, yakni hanya disuarakan dan dengan teriakan banyak Penari yang “kesemuanya Lelaki” ini.


Tari Kecak (secara kasar “KEH-chahk”, pengejaan alternatif: Ketjak, Ketjack), biasa juga disebut “Tari Cak atau Tari Api”. Tarian ini merupakan tarian pertunjukkan hiburan masal yang menggambarkan seni peran dan tidak diiringi oleh alat musik atau gamelan. Namun, hanya diiringi oleh paduan suara sekelompok penari laki-laki berjumlah sekitar 70 (tujuh puluh) orang atau lebih yang berbaris melingkar memakai kain penutup kotak-kotak berbentuk papan catur dan bertelanjang dada. Asal muasal nama Tari Kecak itu sendiri berasal dari para penari laki-laki yang menari kecak dan meneriakkan kata ‘cak cak cak’. Dari situlah akhirnya nama Kecak tercipta. Selain itu, alunan musik Tari Kecak juga berasal dari suara kincringan yang diikatkan pada setiap kaki penari dan para pemeran tokoh-tokoh Ramayana yang dipertunjukkan.


Wayan Limbak (1897 – 2003), seorang penari Bali yang cukup dikenal yang bekerja sama dengan seorang Pelukis Berkebangsaan Jerman “Walter Spies” menjadi orang pertama yang telah menciptakan tarian Kecak yang sangat terkenal dan telah mendunia ini. Beliau meninggal di usia lanjut yakni 106 tahun di Desa Bedulu, Gianyar, Bali. Pada dasarnya sekitar tahun 1930 an, tarian ini berawal dari “tarian Sang Hyang” (tarian suci untuk ritual upacara) yang digelar setiap tahun dalam upacara suci di “Pura Goa Gajah, Bedulu, Gianyar”. Karena itulah Tari kecak pertama kali berkembang di Bona, Gianyar, dan hanya ada disana. Pada awalnya tari kecak merupakan suatu seni musik yang di hasilkan dari perpaduan suara yang biasa mengiringi tarian “Sang Hyang”. Pada mulanya hanya dapat di pentaskan di pura, karena Tarian Sang Hyang merupakan salah satu tarian sakral. Tradisi “sang Hyang” dilakukan dengan tujuan untuk “menolak bala” atau untuk “mengusir suatu penyakit tertentu”. Dengan usulan dari Walter Spies, tarian Sang Hyang tersebut dimodifikasi menjadi sebuah tarian yang akhirnya disebut “Kecak” seperti sekarang, dengan adanya ide untuk mensisipkan cerita dari epos Ramayana yang terkenal, dengan setting takkala “Subali memulai bertempur dengan adiknya Sugriwa” atau “Rahwana yang menculik Dewi Sita”.


Perlu diketahui, bahwa Wayan Limbak sangat gencar mempopulerkan tari Kecak sebagai wakil Bali, khususnya sebagai salah satu bagian dari tarian khas yang memperkenalkan Indonesia pada umumnya ke seluruh dunia. Beliau dengan mantapnya telah membawa grup tarinya keliling dunia untuk mengikuti berbagai festival internasional. Akhirnya Tari Kecak ini sangat dikenal oleh Para Wisatawan Mancanegara yang datang ke Bali. Tari Kecak sangat melekat di hati dan pikiran banyak orang yang mengunjungi Pulau Dewata ini. Wayan Limbak berhasil membawa “Tari Kecak” menjadi sangat populer dan dikenal di mata dunia dan menaikkan nama Indonesia. Bahkan Tari Kecak merupakan salah 1 (satu) pertunjukan yang akan digelar oleh Pemerintah Bali apabila ada pembesar, Kepala Negara Domestik dan Mancanegara, yang menghadiri suatu acara Besar Kenegaraan di Bali untuk penunjukan suatu penghormatan tertinggi.


Hal terpenting tentang tarian ini adalah sebagai suatu tarian yang sangat sakral, terlihat dari penarinya yang terbakar api, namun mengalami kekebalan dan tidak terbakar. Untuk memulai tarian ini Para Penari harus menyucikan diri, banyak berdoa kepada “Tuhan Yang Maha Kuasa” dan melakukan berbagai ritual tertentu. Penari biasanya kemasukan roh dan bisa berkomunikasi dengan para dewa atau para leluhur yang telah disucikan. Penari tersebut dijadikan sebagai media untuk menyatakan sabda-Nya. Saat kerasukan, mereka juga akan melakukan tindakan yang di luar dugaan, seperti melakukan gerakan berbahaya atau mengeluarkan suara yang mereka tidak pernah keluarkan sebelumnya. Tarian ini tergolong dalam tarian yang sakral juga karena ketika penari sedang melakukan pentas sesungguhnya mereka berada dalam keadaan tidak sadar dan melakukan komunikasi dengan Tuhan dan roh dari para leluhur yang menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Karena itu sebelum pementasan Tari Kecak dimulai, kita akan melihat seorang “pemangku atau Pendeta Hindu” yang memimpin doa persembahan untuk meminta keselamatan bagi para penari dan juga penonton. Ketika tarian sudah dimulai berjalan dengan adegan demi adegan mulai dimainkan, suasana akan semakin terasa mistis, sekaligus sangat menghibur ketika bara api ini di injak-injak oleh para penari, tanpa ada satupun yang terluka. Bentuk – bentuk “Sakral” dalam tari kecak ini biasanya ditunjukan dalam hal “kerauhan atau masolah” yaitu kekebalan secara gaib sehingga tidak terbakar oleh api.


Tari Kecak memiliki kisah yang dimulai dengan masuknya para penari yang memerankan “Rama dan Sita” yang berada di “hutan Dandaka”. Kemudian kisah berlanjut dengan diculiknya Sita oleh “Rahwana”. Setelah itu Rahwana bertarung dengan “Jatayu” yang mana pada akhirnya Sita diselamatkan oleh Hanoman. Akhir kisah dari Tari Kecak tersebut adalah pertarungan yang dilakukan antara Rama dan Rahwana.


Seiring dengan berlangsungnya kisah tersebut, para penari kemudian membentuk formasi lingkaran dan terus menyerukan “Cak ke-Cak ke-Cak” ke dalam irama dan ritme yang menyesuaikan dengan suasana dan latar dari kisah yang sedang berlangsung tersebut. Satu hal yang pasti adalah “harus ada satu orang di tengah yang berkostum seperti Rahwana” dan melakukan gerakan yang berbeda dengan lainnya. Sedangkan penari lainnya yang dimaksud adalah duduk mengelilingi satu orang tadi, menyuarakan suara khas, dan memainkan kedua tangan bersamaan dengan penari lainnya.


Hanya ada satu daerah saja yang terus melangsungkan pementasan tari Kecak, yaitu asal dari tari Kecak ini sendiri, di Bali. Di Bali ada dua tempat yang biasa dipakai untuk mementaskan tarian ini. Anda bisa memilih salah satunya ketika di Bali nanti untuk menyaksikannya. Pilihan pertama adalah di “Tanah Lot” di mana sejarah telah mencatat rekor. Pilihan kedua adalah di “Pura Luhur Uluwatu”.


Terlepas dari tiga lokasi tersebut, ada tiga lokasi lainnya yang juga bisa dikatakan aktif memberikan pertunjukkan tari Kecak ini. Diantaranya adalah “Pura Dalem Ubud, Taman Garuda Wisnu Kencana, dan Ratu Bulan”. Tari Kecak ini akan dimulai pada sore hari, hingga akhirnya matahari terbenam. Sungguh sebagai suatu hal yang sangat eksotis dengan siluet sang Mentari yang memasuki peraduannya, diiringi keuletan Para Penari Kisah Ramayana ini. Contoh salah satunya di Uluwatu, di sana tari ini dipentaskan setiap hari pada pukul enam petang sampai tujuh malam. Namun di lokasi lain, jam pementasannya berbeda yang mana bisa lebih awal dan bisa lebih malam.


Puncak dari tarian ini memang pada saat “Hanoman” memainkan bola api setelah dibakar oleh Rahwana dan tidak mempan. Hanoman malahan membakar “Istana Alengka, Tempat Para Bangsawan Raksasa Memerintah terutama Rahwana dan Patih-Patihnya yang kuat. Mungkin karena adegan ini lah sebagai salah satu daya Tarik dari Tari Kecak ini, keindahan api berkobar di tengah “Sunset” dan munculnya malam, sehingga acara selalu dimulai pada sore hingga malam hari. “The Monkey Dance”, sebutan Para Wisatawan Mancanegara untuk menggambarkan tarian ini dan sudah dikenal sebagai julukan tari tradisional khas bali yang telah mendunia dengan adanya pertunjukan “memakai api” dengan tokoh terkenalnya yakni “si kera putih”/ “Hanoman”.


Beberapa nilai yang terkandung dalam tarian khusus ini antara lain:

1. Nilai Seni Yang Tinggi : Tari Kecak merupakan salah satu “trade mark” dari Bali, karena kekhasan cara menarikannya dan Tari ini selalu ditarikan untuk Para Pembesar dan Kepala Negara atau Pemerintahan yang datang ke Bali. Kerapian tarian dan suasana nya yang teratur dan penari yang terlatih. Jadi, Kecak adalah suatu daya Tarik tersendiri yang patut disesali apabila tidak melihatnya;


2. Belajar untuk Selalu Mengandalkan Tuhan : Tari Kecak juga dipercaya sebagai salah satu ritual untuk memanggil dewi yang bisa mengusir penyakit dan melindungi warga dan kekuatan jahat. Dewi yang biasanya dipanggil dalam ritual tersebut adalah “Dewi Suprabha atau Tilotama”,


3. Pesan Moral : dimulai dari kesetiaan Sita yang tidak terbendung kepada Rama Suaminya, yang sampai di “Alengka” pun dia tetap setia pada Rama dan tidak mau menikah atau berhubungan dengan “Rahwana Si Penguasa Alengka”, keberanian dan rela berkorban seperti “Burung Jatayu” yang berusaha menyelamatkan Sita dari Rahwana hingga akhirnya kalah dan tewas dalam pertempuran itu, Jangan serakah seperti Rahwana yang selalu ingin milik orang lain

Selain kisah Ramayana, ada beberapa judul dan tema kecak yang sering dipentaskan seperti : “Kecak Subali dan Sugriwa”, diciptakan pada tahun 1976. “Kecak Dewa Ruci”, diciptakan pada tahun 1982. Keduanya merupakan hasil karya dari “Bapak I Wayan Dibia”.

Perlu diketahui bahwa pada 25 Februari 2018, Tari Kecak juga sempat mendapatkan penghargaan dari MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) karena berhasil membuat pertunjukan Tari Kecak di “Pantai Berawa” dengan penari sebanyak “5555 orang” yang melibatkan siswi dan siswa Kabupaten Badung, Bali. Penilaian tersebut bukan hanya bicara angka yang besar. Namun karena Tari Kecak adalah tarian unik satu-satunya di Indonesia dan tidak dimiliki negara mana pun.
Tim Fashiondailly, sangat menganjurkan untuk anda semua yang berlibur ke Bali untuk menyempatkan waktu menonton Tari Kecak ini. Bukan Kebali Namanya, kalua belum menyaksikan keindahan, keeksotisan dan suasana mistis dan romantisme “Sunset” dari Pementasan tarian.

(Content Writter : Dupa Andhyka s Kembaren (Co-Founder), Editor : Anak Agung Narendra Putra (Founder), www.fashiondaily.id, 28082020

Sources : Wikipedia, toriqa, pegipegi, garudacitizen, rancah, aboutbali.beritabali, transstudiomall, balimediainfo, Indonesia.travel, blog.tiket, wordpress

Images Source : Wikipedia, baliilu, Liputan6, baleudang, balicheapesttours, kumpulanmateripelajaranpopuler, yukpigi, budhabalitour, artnet, balitrips

fashiondaily.id is an online magazine, that captures daily updates on fashion lifestyle trends.

Menu

More Stories
Rencana Supreme Rilis Lipstik