Vintage, Kuno dan Tak Lekang Oleh Waktu

Mode berpakaian Vintage merupakan suatu mode fashion yang sedang banyak dibicarakan pada saat ini. Ada baiknya bagi kita untuk mengetahui, mode seperti apa “vintage” tersebut dan tidak asal menyebutkan kata tersebut tanpa tahu arti sebenarnya bukan?”

Perlu diketahui, bahwa “vintage” adalah suatu kata yang berasal dari Bahasa latin yaitu “Vinnum” yang berarti “Wine” atau “Minuman yang difermentasi dan berasal dari Anggur”. Para petani anggur lah yang sering menggunakan kata “Vinnum” ini, sehingga orang-orang sering mengikuti nya untuk “menyebutkan sesuatu yang mereka anggap sebagai hal-hal yang berbau kuno dan langka dan bertahan lama”.
Kata “vintage” ini juga bisa digunakan sebagai kata benda atau kata sifat. Dalam 20 tahun terakhir, istilah tersebut juga digunakan dalam fashion untuk menunjukkan pakaian yang berasal dari era sebelumnya, dari tahun 1920-an hingga 1980-an, sedangkan pakaian yang diproduksi sebelum 1920-an dianggap antik. Potongan yang dibuat sejak lama dan dibuat dengan cinta, dengan detail yang luar biasa, dari bahan berkualitas tinggi, sering kali dengan tangan sang desainer langsung dan dapat diproduksi untuk tahan lama.

Perlu untuk dibedakan bahwa Vintage tidak sama dengan “Retro”. Retro, sebagai singkatan dari “retrospective”, biasanya “mengacu pada pakaian yang meniru gaya zaman sebelumnya”, tetapi tidak memiliki nilai historis dan romantis dari pakaian vintage, maupun kualitas bahan dan pembuatannya.

Sebagai kata sifat, maka kata benda yang berlabel “vintage” diasosiakan dengan sesuatu yang semakin bermakna karena model atau usianya yang lama dan bertahan (existed). Sehingga, semakin tua usia benda tersebut, maka akan semakin baik dan tinggi nilai estetikanya. Jadi dapat dikatakan bahwa vintage tersebut melebihi 20 tahun tapi tidak lebih dari 100 tahun, jadi masih termasuk golonagan “kuno” dan “unik”. Jadi segala bentuk fashion dan seni berpakaian dan dianggap lama dan bernilai sampai pada waktu yang lama maka dapat disebutkan sebagai “Vintage”.

Pada awalnya, terkait mode vintage ini, pada dasarnya ada beberapa kalangan yang menganggap hanya kalangan bawah yang mengadopsi. Tren pakaian “vintage” sebagai fashion meledak di tahun 1960-an.

Sebelumnya, perdagangan dan pemakaian pakaian lama memiliki konotasi yang berbeda. Kaum Bangsawan dan Kaum Pengusaha dianggap sudah bosan dengan suatu mode pakaian dan diperjualbelikan secara murah untuk jenis “pakaian bekas”. Kaitan antara mode dan pakaian lama membuat pakaian menjadi indikasi pasti dari status sosial seseorang – garis dan kain jaket dari periode yang terlalu baru untuk menjadi mode atau klasik segera menunjukkan bahwa pemakainya berasal dari kelas bawah. Itu adalah stigma yang sangat disadari oleh orang-orang. Etos “make do-and-mend” memungkinkan kelas bawah untuk memposisikan pemakaian pakaian lama sebagai hemat dan, selama masa perang, patriotik. Namun, itu adalah pakaian tua yang diwariskan melalui keluarga. Itu pasti jarang dibeli. Konsumen pakaian lama, kemudian, “dianggap” sebagai mereka yang berusaha memberi kesan status sosial yang lebih tinggi, orang miskin, atau aktor, dan akibatnya, dalam beberapa hal, diperlakukan sama mencurigakannya dengan mereka yang menjual pakaian tersebut.

Namun, memang pada saat itu semua tingkat perdagangan pakaian lama didukung dengan baik didukung oleh meningkatnya “kecepatan pergantian mode dari abad ke-15 dan ke-16”, dan pertumbuhan ketersediaan konsumen dari tren ini. Seiring dengan meningkatnya konstituensi komersial untuk fashion, pertumbuhan perdagangan pakaian lama meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah barang tersebut. Para pemulung asli mengumpulkan barang-barang yang telah dibuang orang lain dan mengembalikannya ke siklus ekonomi. Akibatnya, banyak orang yang melihat pakaian-pakaian bekas ini sebagai keuntungan untuk dijual Kembali sehingga mereka banyak bersekutu dengan orang luar lain, atau anggota kelas bawah tersebut.

“Karl Marx” kemudian mendefinisikan filosofi bohemianisme artistik melalui kaitannya dengan kelas bawah sosial ini. Walaupun terdapat anggapan tentang pakaian tua/lama/kuno ini adalah pakaian untuk kelas bawah, tetapi menghasilkan banyak keuntungan dan digandrungi banyak orang pada saat itu. Pangsa pasarnya sangat meningkat, sehingga pasar pakaian mode “vintage” pun Kembali dipamerkan. Banyak orang Kembali “kangen:” dan ingin memakai pakaian-pakaian model lama nya dan dipadu padankan dengan berbagai “style” pilihan mereka.


“Le Zotte” berpendapat bahwa pakaian bekas pertama kali “dibersihkan” oleh pakaian seperti “Salvation Army” dan kemudian bermigrasi ke pasar loak dalam penggalangan dana untuk Prancis pasca perang. Hanya ketika pakaian bekas dipakai oleh para bohemian barulah pakaian itu menjadi mode. Jenis budaya tandingan ini ingin mempengaruhi tampilan “kemiskinan terpilih”, yang menempatkan mereka di luar gaya borjuis konvensional tahun 1950-an – dan menjadi pembom di sekitar mantel rakun tahun 1920-an yang tampak “dimakan ngengat dan diikat dengan peniti,” seperti yang dikatakan Robertson di 1957. Dan dengan demikian, pakaian bekas mengasumsikan kilau glamor dan perlahan-lahan dikenal sebagai “vintage”.

Pada pertengahan 1970-an, pakaian vintage adalah penghasil uang yang tak terbantahkan, dan toko-toko besar menginginkannya. Butik di Manhattan dipenuhi dengan “sutra bordir vintage”, “crepes” yang menempel, “chiffon mengambang”, dan “cetakan acak-acakan,” menurut sebuah artikel dalam “New York Times tahun 1976”, mengagumi berbagai pakaian yang tersedia untuk “yang baru saja pindah ke kultus pakaian “vintage.” Dalam beberapa tahun, para desainer besar memasuki permainan vintage, dengan department store seperti “Macy’s, Abraham & Straus, dan butik-butik vintage yang dibuka di Bamberger”.

situs konsinyasi pakaian desainer Prancis, “Vestiaire Collective”, mengumumkan pembukaan divisi “vintage”-nya. Kategori labil, “vintage” di Vestiaire, menurut email promosi, didefinisikan sebagai “barang yang dirancang setidaknya 15 tahun yang lalu”, dan situs olahraga “Comme des Garçons”, “tas Hermès Kelly” dalam pelangi warna, dimana mereka menjadikan “Chloë Sevigny” sebagai juru bicaranya. Penggunaan selebriti untuk menjual barang vintage adalah pertumbuhan langsung yang sangat dirasakan pada babak perkembangan mode “vintage” ini. Pengenalan mulai dilakukan dari Para selebriti yang mengenakan pakaian vintage di “karpet merah”, sebagai sebuah tren yang dimulai pada tahun 1997 ketika “Cameron Silver” membuka “Decades” : sebuah toko vintage yang melayani bintang-bintang ternama seperti “Julia Roberts, Jada Pinkett Smith, dan Gwen Stefani”.
Anda mungkin tidak tahu, tapi pakaian vintage dengan “ukuran plus XL” sangat sulit ditemukan. Hal ini disebabkan fakta bahwa pembuatannya memang relatif jarang terjadi sebelum tahun 1980-an, sehingga ukuran yang lebih besar tidak diproduksi sedemikian rupa dan biasanya dibuat dengan tangan. Hal ini sangat digandrungi oleh Para Pecinta Mode Vintage ini.

Popularitas mode vintage dikontribusikan oleh fakta bahwa itu dikenakan oleh aktris terkenal dan model top di tahun 1990-an, serta banyak film Hollywood yang berlatar era yang berbeda dan menjadi sumber inspirasi pemilihan mode pakaian vintage. Salah satunta adalah Bintang Hollywood “Marilyn Monroe”, dimana jenis pakaiannya menjadi sangat terkenal untuk model vintage pada masa sekarang.
Pada masa lampau, mode ini selalu mengutamakan kualitas daripada kuantitas, tidak ada produksi massal, jadi hampir setiap karya vintage saat ini unik dan merupakan pilihan tepat jika Anda ingin tampil menonjol dengan gaya vintage ini.


Fashion memang selalu berputar. Ketika Anda kembali mempopulerkan tren fashion di era puluhan tahun yang lalu, Anda akan disebut sebagai seseorang berpenampilan vintage. Pola dasar yang digunakan sebagai patokan fashion dari waktu ke waktu sebetulnya sama. Yang membuat tren fashion itu berbeda hanya ada pada pemilihan warna dan bahan pakaian.

Gaya vintage ini berkesan klasik namun tetap elegan dan feminin. Gaya ini sempat menjadi tren pada tahun 1920-an hingga 1960-an dan kini kembali tren. Selain gaya berpakaian vintage, gaya ini makin tren dengan berbagai aksesori vintage yang juga tren. Anda dapat mencoba untuk mempadu padankannya. Semakin banyak juga desainer, bahkan pengusaha dan model yang fokus pada berbagai model fashion vintage ini dan menjadi mode andalan mereka. Gaya berpakaian vintage juga, pada akhir ini banyak di pakai dan dicoba oleh Para Lelaki. Gaya ini dianggap santai dan memang sangat unik karena tidak perlu merogoh terlalu banyak dana untuk mendapatkannya. Terutama Para pria dapat memilih berbagai model lama yang berada di lemari dan dipadukan dengan gaya yang khas dengan kesukaannya.

Perkembangan fashion bisa dikatakan memiliki siklus seperti roda. Anda mungkin tidak pernah menyadari bahwa tren fashion yang Anda suka saat ini sebetulnya adalah tren fashion yang begitu populer di era 1970an. Fashion memang selalu berputar. Ketika Anda kembali mempopulerkan tren fashion di era puluhan tahun yang lalu, Anda akan disebut sebagai “seseorang berpenampilan vintage”. Pola dasar yang digunakan sebagai patokan fashion dari waktu ke waktu sebetulnya sama. Yang membuat tren fashion itu berbeda hanya ada pada pemilihan warna dan bahan pakaian.

Yang paling berharga adalah barang vintage “yang belum pernah dipakai”, “terutama jika memiliki label aslinya”. Potongan-potongan itu sangat langka dan sangat dihargai oleh pecinta vintage sejati. Pemuja busana vintage Syrie Moskowitz punya wawasan unik tentang fenomena vintage selebriti. Seorang aktris dan artis yang muncul dalam kampanye Kate Spade, Moskowitz telah mengenakan pakaian vintage sejak dia masih kecil. “Saya selalu mengenakan gaun Victoria putih kecil yang aneh. Saya selalu terlihat seperti boneka yang menyeramkan, ”kata Moskowitz. Saat ini, Moskowitz yang berusia 30 tahun memadukan dan mencocokkan vintage dengan pakaian kontemporer, dan memahami bahwa membeli pakaian vintage adalah “membeli pengalaman, apakah pengalaman itu berlangsung satu malam, dua malam, atau mungkin seumur hidup saya jika saya beruntung.” Jadi dari kata-kata pecinta vintage ini dapat kita simpulkan bahwa pergunakanlah vintage, gunakan kreasi dan berimaginasi untuk mempadu padankan mode berbusana dengan “style” yang kita sukai.

Vintage merupakan salah satu gaya yang banyak diterapkan dalam berbagai bidang, mulai dari interior design hingga fashion. Bukan tanpa alasan, tema vintage memang bisa memberikan penampilan yang unik sekaligus berkelas. Inilah yang membuat gaya vintage tetap menjadi tren dan masih banyak digunakan di industri fashion.

Gaya vintage menonjolkan kesan anggun, feminin, sekaligus elegan bagi pemakainya. Beberapa ciri dasar dari gaya satu ini adalah perpaduan baju dengan warna-warna kalem dan lembut serta menggunakan beberapa jenis motif seperti “polkadot”, “floral”, hingga “tartan” serta mengggunakan berbagi syal dan aksesoari lainnya mendukung gaya anda.
Apakah anda akan memilih style “Vintage” untuk menunjang penampilan anda?

(Content Writter : Dupa Andhyka S Kembaren (Co-Founder), Editor : Anak Agung Narendra Putra (Founder), www.fashionaily.id, 19082020)

Source : Wikipedia, fashion-history.lovetoknow.com, atlasobscura, racked, researchgate.net, coololdstuff, idntimes, ulicni-ormar.hr, fimela.com, bp-guide

Image Source: ulicni-ormar.hr, pinterest, theseamstressofbloomsbury.co.uk, Shopee, stylo.grid.id, kamiceria, sawasdeefashion.wordpress.com, Whertogetit, Harpersbazar.com, Globalnews

fashiondaily.id is an online magazine, that captures daily updates on fashion lifestyle trends.

Menu

More Stories
Saint Laurent Ikuti Fashion Show Virtual TikTok