Dina Aditya Hermanadi : “Bekerja Dengan Panggilan Hati”

Ia meninggalkan karir cemerlangnya di dunia periklanan, lalu menerima pinangan menjadi asisten juru bicara Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) pada Kabinet Indonesia Maju. Awalnya, Dina Adityareni Hermanadi ragu, namun melihat kesungguhan Pakde (panggilan akrab Jokowi), akhirnya ia luluh. Sejak Oktober 2019, ia berkantor di istana negara. Panggilan semesta, begitu Dina menyebutnya.

Bagaimana awalnya bisa bergabung dengan istana?
Saat Pak Fadjroel diangkat jadi juru bicara (jubir), beliau calling saya. Sebelumnya sudah diminta bergabung di periode awal Pakde (Jokowi) sebagai presiden terpilih. Bahkan sudah diskusi juga tentang strategi komunikasi apa saja yang perlu diperbaiki di istana itu. Sampai kemudian saya ada di titik waktu itu, kalau di dunia advertising itu, khan, dunia gemerlap. Sering kali bekerja di industri ini tidak memikirkan kemaslahatan umat. Selama bisa achieve KPI (key performance indicator) dari brand yang saya kawal, ya, sudah, cukup. Tidak berpikir apakah nantinya yang saya capai itu akan bermanfaat buat bangsa atau tidak.

Lalu kapan memutuskan untuk menerima pinangan menjadi tim juru bicara Jokowi?
Ada titik saat saya berpikir do something yang punya impact untuk masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah. Saya seperti dikasih sinyal alam, semesta, “ini, nih, yang gue pikirkan selama ini!”. Saya seperti diberi kesempatan do something untuk 267 juta jiwa masyarakat Indonesia. Saya melihat Pakde ini mewakafkan seluruh hidupnya. Pak Fadjroel juga masih sama, ingin menegakkan demokrasi, menegakkan tujuan bangsa. Awalnya saya masih ragu, namun setelah konsultasi dengan keluarga dan beberapa teman dekat, ini sepertinya memang saatnya.

Mengawal brand itu pasti sangat berbeda dengan mengawal kebijakan pemerintah. Mengalami shock culture-kah?
Di awal, saya sempat agak frustasi. Kalau di brand, kita selalu ada brief, bikin strateginya dulu baru kemudian eksekusi. Nah, ini, khan enggak. Eksekusinya saya harus hubungi dulu A, B, C, kemudian soal program yang tidak bisa dieksekusi karena tidak dianggarkan di tahun sebelumnya, sehingga tidak bisa dieksekusi. Ini benar-benar tantangan. Target audience juga tidak dianalisa, tidak pernah dicari insightnya apa. Jadi main dilemparkan saja. Kebijakan dikeluarkan tapi tidak pernah diukur efektifitas dan efisiensi dari proses komunikasinya. KPI yang dipakai, ya, kebijakan sudah disampaikan. Hanya menyampaikan pesan saja.

Jokowi ada slogan cukup terkenal, kerja, kerja, dan kerja. Benar demikian?
Saya ini ada WA group di tim juru bicara dan mostly 24 jam ga berhenti. Jadi, dari presiden turun ke Pak Fadjroel, dari Pak Fadjroel baru ke tim saya. Isu itu, khan, harus kita pantau terus. Karena tim ini bertugas menjaga bagaimana trust terhadap presiden (pemerintah) itu terjaga, dan kita terus maintain. Lalu kita harus amati, monitor, dan menganalisa isu-isu yang berkembang. Di pemerintahan ini begitu dinamis, beda dengan brand yang lebih terukur dan objektifitasnya sudah jelas. Kalau di pemerintahan, saya merasa crisis terus. Misalnya hari ini bicara PSBB, kemudian besok lagi Omnibus.

Lulusan sarjana farmasi bisa kecemplung di dunia media, bagaimana ceritanya?
Saya itu lulus kuliah sempat kerja di perusahaan obat. Tapi, ada saudara dekat yang dia itu kerja jadi media planner. Saudara saya cerita terus bagaimana menariknya kerja jadi media planner. Mulai dari sini sudah mulai tertarik. Setelah 4 bulan, saya ditawari masuk ke lab, jadi QC, QA di perusahaan kosmetik, tapi saya tolak. Ahirnya saya gabung ke agency. Akhirnya kenal Pak Triawan Munaf. Beliau adalah my first boss. Bos pertama saya yang sangat menginspirasi. Inspirasi dari Pak Triawan yang membuat saya tidak bisa ke lain hati. Cinta saya memang di komunikasi, marketing, khususnya media planner. S2 saya pasca sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), saya ambil yang manajemen marketing.

Sekarang ini spektrum media itu sangat luas, akibatnya banyak hoax. Bagaimana tanggapannya?
Dulu, zaman Pak Harmoko, media kita hanya ada TV, tidak seperti sekarang banyak pilihan channel, jadi komunikasi berjalan satu arah. Nah, sekarang, channel dan platform media itu banyak banget, dan sayangnya masyarakat kita terbiasa menelan mentah-mentah semua informasi yang masuk. Tidak semua yang ada di digital itu benar. Kita harus pintar melakukan filter, saring sebelum sharing. Itulah kenapa sekarang ini kita perlu penguatan literasi digital.

Bicara media tentu tidak lepas dari industri kreatif (agency). Sementara kompetisi antar pelaku industri kreatif semakin tidak fair. Bagaimana pandangan Mba Dina?
Ya, kita akui saja, saat ini persaingan sudah tidak sehat. Kalau multinational agency, mereka, khan, dapat support dari luar, sementara kita lokal berdarah-darah. Menurut saya, idealnya harus ada goodwill dari pemerintah untuk mengeluarkan kebijaksanaan di industri kreatif ini.

Pandemi ini sebenarnya bisa jadi moment untuk industri kreatif kita. Agency lokal ini, khan, mirip UMKM. Kita tahu Pakde itu punya perhatian khusus ke industri lokal. Bahkan, kemarin beliau sempat mengeluarkan warning ke pemerintahan dan BUMN agar serapan anggaran ditingkatkan. Caranya, kasih kesempatan untuk kawan-kawan di industri kreatif (agency).

Saat Pakde Jokowi sudah tidak menjadi Presiden, apakah Mba Dina masih berkeinginan bertahan di tim jubir, atau sudah punya rencana lain?
Passion saya tetap ingin menguatkan industri lokal, UMKM. Saya sudah nda tega lagi kerja di multinational agency, sudah cukup 15 tahun. Justru sebenarnya kemarin saya sempat mau bergabung dengan salah satu startup yang menggerakkan UMKM.

Saya juga sudah diskusi dengan beberapa kawan, UMKM itu butuh pendampingan. UMKM itu butuh strategi komunikasi, menentukan target audience, termasuk eksekusinya. Tapi mereka ini, khan, skala bujetnya kecil. Inilah yang kemudian harus kita carikan solusinya dengan sebuah platform.

Saya lihat Mba Dina itu suka banget dengan produk-produk fashion UMKM. Siapa yang paling jadi favorit?
Ini yang saya pakai sekarang itu baju lurik, desain lokal, desainernya Lulu Luthfi Labibi dari Yogyakarta. Saya kagum dari nilai-nilai Lulu mendesain baju. Lulu ini pakai prinsip Wabi Sabi, artinya kecantikan pada ketidaksempurnaan. Ia melihat bagaimana sebuah kain itu berproses untuk bisa menyatu, membalut ke tubuh seseorang. Selain itu Lulu ini juga memberdayakan perajin-perajin lokal dari Klaten, penenun lurik lokal. Ini yang sangat saya kagumi dari Lulu Luthfi Labibi.

Masih soal fashion, untuk aktifitas sehari-hari, Mba Dina ini suka style apa?
Saya itu rindu banget pakai celana jeans. Soalnya di lingkungan istana, khan, nda boleh pakai celana jeans. Ini salah satu hal yang bikin stress juga. Dalam bahasa komunikasi, celana jeans ini ibarat memangkas jarak, jadi lebih egaliter, dan merasa lebih sporty. Misalnya ketika dalam situasi negosiasi, dengan paduan jeans dan style casual, suasana jadi lebih cair.

Pakde Jokowi itu suka pakai setelan atasan putih, saya juga suka. Ini yang mungkin buat saya jadi nyambung dengan beliau. Jadi saya itu setelan casual, ini untuk mengimbangi audience. Dengan setelan casual, saya itu merasa lebih kreatif. Pemerintahan, khan, harus kreatif. Karena kreatif itu akar inovasi. Nah, inovasi ini jadi jawaban untuk mencari jalan keluar dari berbagai permasalahan.

Gaya casual saya mungkin dilihat berbeda oleh sebagian orang. Ini bagian dari ekspresi kreatif saya. Dengan style casual, saya ingin dekat dengan audience saya. Pendekatan style formal pelan-pelan saya reduksi, supaya tujuan dari komunikasi itu cepat tersampaikan. Caranya, ya, style casual tadi.

Mba Dina, khan, identik dengan hijab. Ada benchmark desainer yang jadi panutan, mungkin?
Saya itu tidak menjadikan hijab sebagai eksklusifitas. Menurut saya, justru dengan berhijab itu kita harus menjadi inklusif, harus bisa menebarkan nilai-nilai yang sifatnya universal. Sehingga tidak menjadi satu kelompok sendiri di masyarakat, dan karena hal tersebut kalau ada desainer yang khusus berhijab, saya itu agak mempunyai suatu kecurigaan. Justru proses kreatif dalam fashion yang saya nikmati.

Kalau untuk aksesoris, Mba Dina cenderung yang modern, classic, atau etnik?
Tipe fusion rasanya lebih cocok, ya. Suka menggabungkan antara tradisional dengan yang modern. Brand lokal dipadu dengan brand internasional. Kalau pakai coat, tasnya pakai tas kulit lokal. Hal-hal yang ekstrim itu justru baiknya kita padukan.

Dari brand fashion yang sudah biasa dikenal, Prada misalnya. Paling favorit apa, Mba?
Saya ini nda fanatic brand. Tapi beberapa brand seperti Louis Vuitton, Channel, itu koleksinya ada. Saya masih harus menyeimbangkan rasionalitas juga, ya. Kalau lokal itu saya suka Edward, Samuel Watimena, Lulu Luthfi. Di Tanah Abang itu ada brand Nyonya Punya. Dia ini cari produk tenunnya ke NTT dan saya sering belanja baju-bajunya.

Pertanyaan terakhir, khasnya Fashion Daily, nih, Mba. Kalau Mba Dina tersesat di suatu pulau, apa benda wajib yang harus dibawa?
Saya rasa handphone, sih, sebenarnya.

Oleh: Nanang Sari Atmanto

fashiondaily.id is an online magazine, that captures daily updates on fashion lifestyle trends.

Menu

More Stories
Gaya Ariana Grande di Video Musik Positions